Namun, teknologi pengolahan di hilir bukan satu-satunya hal yang perlu diperkuat. Heri menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumber.
Pansus 16 juga melakukan studi banding ke Bali dan menemukan bahwa kebiasaan memilah sampah dari sumber menjadi salah satu faktor penting dalam sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut.
“Yang paling penting bagaimana mengubah habit masyarakat. Masyarakat sudah punya kebiasaan untuk memisahkan sampah dari hulu,” ujarnya.
Menurut Heri, pemilahan dari hulu akan membuat proses pengolahan di hilir menjadi lebih mudah. Sampah organik dan anorganik yang sudah dipisahkan dapat ditangani berdasarkan karakteristiknya masing-masing.
Pelaku Usaha Diminta Kelola Sampah Sendiri
Selain mendorong perubahan kebiasaan masyarakat, Heri menilai pengelolaan sampah tidak seharusnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Pelaku usaha, terutama sektor komersial, dinilai perlu ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas mereka.
“Kalau yang komersial harus bisa mengelola sampah sendiri. Di kita belum bisa sendiri,” tegasnya.
Heri mencontohkan sampah organik yang sebenarnya dapat diolah secara mandiri oleh masyarakat. Sampah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi kompos sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pengolahan atau pembuangan akhir.
Ia juga menyinggung kondisi di Bali yang memiliki tantangan persampahan tersendiri, termasuk sampah organik yang berasal dari aktivitas keagamaan.
Meski demikian, persoalan tersebut dinilai dapat ditekan karena masyarakat telah terbiasa melakukan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.






