JURNALINDONESIAUPDATE – Kedaulatan digital Indonesia tidak cukup diwujudkan dengan kemampuan menggunakan teknologi. Indonesia juga perlu memiliki kapasitas untuk memproduksi perangkat keras, mengembangkan perangkat lunak, serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menguasai teknologi secara mandiri.
Hal tersebut disampaikan praktisi senior teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sekaligus Anggota Dewan TIK Nasional (Wantiknas), Garuda Sugardo, dalam Seri Dialog XXIII bertajuk “Kedaulatan Digital Indonesia: Realistis atau Utopis?” di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Dalam diskusi tersebut, Garuda menegaskan bahwa kedaulatan digital tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sekadar gagasan utopis. Menurutnya, cita-cita tersebut harus diwujudkan melalui penguatan industri manufaktur dan teknologi telekomunikasi dalam negeri.
“Untuk mencapai kemandirian digital, kita harus bisa memproduksi perangkat keras, perangkat lunak, dan mencetak SDM Indonesia sendiri. Kuncinya adalah keberpihakan kepada industri dalam negeri,” tegas Garuda.
Tokoh yang dikenal sebagai Bapak Seluler Indonesia ini juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap industri strategis nasional, khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang teknologi dan telekomunikasi.
Salah satu perusahaan yang dinilai memiliki posisi penting dalam ekosistem tersebut adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI.
PT INTI Punya Sejarah di Industri Strategis Nasional
Garuda menyebut PT INTI sebagai salah satu bagian penting dari industri strategis nasional yang diwariskan oleh almarhum Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.






