Bio Farma Targetkan Penuhi 90 Persen Kebutuhan Vaksin Nasional pada 2029

JURNALINDONESIAUPDATE – PT Bio Farma (Persero) menyiapkan ekspansi kapasitas produksi vaksin melalui pembangunan fasilitas manufaktur baru di luar Bandung. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 750 juta dosis dan ditargetkan mulai menghasilkan produk pada periode 2029–2031.

Rencana ekspansi ini menjadi bagian dari strategi Bio Farma untuk memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia, meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri, serta memperluas daya saing industri vaksin nasional di pasar global.

Pengembangan tersebut dipaparkan dalam Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Fairmont, Jakarta.

Dalam forum bertema Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth tersebut, Bio Farma menyampaikan sejumlah rencana strategis, mulai dari pembangunan fasilitas produksi, hilirisasi penelitian, pemanfaatan teknologi digital, hingga peluang kemitraan investasi.

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, dalam sesi pleno From Laboratory to Industry: How Science Becomes Economic Capability, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk mengembangkan industri bioteknologi.

Menurut Shadiq, hasil penelitian tidak cukup hanya menghasilkan inovasi di laboratorium. Pengembangan tersebut perlu didukung kesiapan teknologi, fasilitas manufaktur, pembiayaan jangka panjang, serta akses pasar agar dapat diproduksi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Saat ini, Bio Farma memasok 13 dari 14 jenis vaksin dalam Program Imunisasi Nasional dengan jumlah pasokan lebih dari 120 juta dosis setiap tahun. Perusahaan juga telah menjangkau 153 negara dengan total distribusi mencapai 86 miliar dosis vaksin sejak 2001.

Siapkan Fasilitas Produksi di Luar Bandung

Untuk memperkuat kapasitas manufaktur, Bio Farma menyiapkan proyek Bio Shield Nusantara. Dalam sesi Investor Showcase DTIIF 2026, Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, memaparkan rencana pembangunan fasilitas produksi baru di luar Bandung.