Bio Farma Targetkan Penuhi 90 Persen Kebutuhan Vaksin Nasional pada 2029

Bio Farma juga terus memperkuat kerja sama dengan WHO, UNICEF, Gates Foundation, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Selain itu, perusahaan menjalin kerja sama transfer teknologi dan manufaktur dengan mitra di Senegal dan Ghana. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi vaksin sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan global.

Ke depan, Bio Farma akan mengembangkan portofolio vaksin, antara lain HPV, rotavirus, tifoid konjugat, heksavalen, campak-rubela, dengue, dan hepatitis B.

Perusahaan juga memperkuat penguasaan teknologi mRNA dan rekombinan serta menjajaki pengembangan produk life sciences, termasuk biosimilar dan terapi sel.

Raih Penghargaan Inovasi Vaksin Rotavirus

Dalam rangkaian DTIIF 2026, Bio Farma turut memperoleh penghargaan Biomedicine Innovation melalui inovasi vaksin rotavirus bertajuk Bio RV: The World’s First Neonatal Rotavirus Vaccine, from Scientific Innovation to National Vaccine Self-Reliance and Industry.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Innovation Award pada Rabu (28/10).

Ketua Tim Kerja Produksi Vaksin Rotavirus, Catur Gunawan, menjelaskan bahwa vaksin rotavirus tersebut dikembangkan untuk membantu mencegah diare pada bayi.

“Keunggulannya, vaksin ini dapat memberikan perlindungan lebih dini kepada bayi sejak awal kelahiran, sehingga tidak perlu menunggu hingga usia sekitar dua bulan untuk mendapatkan vaksinasi,” papar Catur.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pengembangan vaksin tersebut, termasuk Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta tim pengembangan vaksin Bio-RV di Bio Farma.