Salah satunya adalah Medtrack, teknologi pemantauan distribusi vaksin berbasis digital secara real-time. Sistem ini memungkinkan pengawasan suhu selama proses pengiriman sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi.
Pemanfaatan Medtrack menjadi bagian dari penguatan sistem rantai dingin atau cold chain untuk menjaga kualitas vaksin sejak proses pengiriman hingga sampai kepada penerima.
Bio Farma juga mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam penelitian dan produksi. Sementara teknologi Virtual Reality (VR) digunakan untuk mendukung pelatihan serta peningkatan kompetensi karyawan.
Direktur Operasi Bio Farma, Iin Susanti, dalam sesi Deeptech for All: Innovation, Leadership and Inclusion, menyoroti pentingnya kemampuan industri dalam mengubah hasil penelitian menjadi produk kesehatan yang dapat diproduksi secara massal.
“Penelitian adalah langkah awal. Namun, penelitian yang tidak dapat diskalakan menjadi sebuah produk hanya akan tetap berada di laboratorium. Karena itu, dibutuhkan rekayasa proses dan komersialisasi,” ujar Iin.
Ia menjelaskan, pengembangan vaksin membutuhkan proses panjang, mulai dari penelitian, pengujian praklinis, uji klinis, hingga pemenuhan persyaratan regulasi. Karena itu, percepatan hilirisasi membutuhkan dukungan teknologi, pembiayaan jangka panjang, fasilitas manufaktur, serta tenaga kerja kompeten.
Perluas Kolaborasi dan Portofolio Vaksin
Salah satu hasil penguasaan teknologi Bio Farma adalah pengembangan novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2) yang memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023.






