Kinerja BRI Makin Kinclong, Laba Tumbuh 17,5 Persen dan Kredit Capai Rp1.646 Triliun

Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama 2026.

Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Sementara itu, Return on Asset (ROA) BRI tetap berada di kisaran 2,7 persen. Return on Equity (ROE) bahkan meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” ujar Hery.

UMKM Tetap Jadi DNA BRI

Meski melakukan diversifikasi bisnis, BRI tetap menempatkan UMKM sebagai fondasi utama perseroan.

Hery mengatakan, pengembangan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, serta sumber pertumbuhan baru dilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang semakin beragam. Namun, langkah tersebut tetap berjalan dengan UMKM sebagai core business.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.

Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penyaluran kredit, tetapi juga berbagai program pemberdayaan.