Kinerja BRI Makin Kinclong, Laba Tumbuh 17,5 Persen dan Kredit Capai Rp1.646 Triliun

Aktivitas bisnis UMKM juga menunjukkan perkembangan positif. Hal tersebut tercermin dari Indeks Bisnis UMKM yang meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026.

Indeks di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan memiliki optimisme terhadap aktivitas usahanya.

“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional,” ujar Hery.

Ia menegaskan, transformasi bisnis yang dilakukan BRI tidak mengubah fokus utama perseroan untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Aset dan Kredit BRI Terus Tumbuh

Dari sisi kinerja konsolidasian, aset BRI hingga akhir Triwulan II 2026 mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen yoy.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy.

Pertumbuhan bisnis tersebut turut mendorong pendapatan BRI. Net interest income meningkat 9,9 persen yoy, dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.

Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga mengalami peningkatan 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

Menurut Hery, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberikan dampak terhadap kinerja keuangan.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” katanya.

Fundamental BRI Makin Sehat

Pertumbuhan kinerja juga dibarengi dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental.