Mahkota Binokasih dan Simbol Kekuasaan
Salah satu peninggalan penting dari masa kejayaan tersebut adalah Mahkota Binokasih, yang menjadi simbol penobatan raja-raja Sunda. Mahkota ini dibuat di Kerajaan Galuh dan digunakan saat penobatan Sri Baduga Maharaja.
Kini, mahkota tersebut disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun dan menjadi pusat perhatian dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk kirab Tatar Sunda.
Kerajaan Lain: Talaga, Cirebon, hingga Banten
Selain Sunda dan Galuh, terdapat pula Kerajaan Talaga yang dikenal sebagai kerajaan bercorak Buddha di wilayah Majalengka. Sementara itu, Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten menjadi kekuatan baru setelah runtuhnya Kerajaan Sunda pada abad ke-16.
Cirebon, yang didirikan oleh keturunan Prabu Siliwangi, berkembang menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Dari sinilah kemudian lahir Kesultanan Banten yang menjadi rival kuat dalam perebutan kekuasaan di wilayah barat Pulau Jawa.
Sumedanglarang, Penerus Kerajaan Sunda
Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda pada 1579, tongkat estafet kekuasaan dilanjutkan oleh Kerajaan Sumedanglarang di bawah Prabu Geusan Ulun. Penyerahan Mahkota Binokasih kepadanya menandai posisi sebagai penerus sah kerajaan Sunda.
Namun, pada abad ke-17, Sumedanglarang memilih bergabung dengan Mataram dan statusnya berubah menjadi kabupaten. Sejak saat itu, peran raja tidak lagi bersifat politis, melainkan sebagai pemangku budaya.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Sejarah kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga fondasi identitas budaya masyarakat Jawa Barat saat ini. Tradisi, nilai, dan simbol seperti Mahkota Binokasih menjadi pengingat akan kejayaan sekaligus perekat kebersamaan.
BACA JUGA






