“Dampak yang paling nyata dari kolaborasi ini tentu adalah peningkatan ekonomi bagi para perempuan penenun. Namun saat peluang ekonomi meningkat, ada risiko bertambahnya beban ganda perempuan. Kita perlu memastikan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi tidak terjadi dengan mengorbankan peran-peran lain yang selama ini mereka jalankan di rumah dan komunitas,” ujar Gabriella.
Ia menjelaskan, sebagian besar mama penenun di Mollo masih bergantung pada alam dan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, peningkatan akses ekonomi perlu disertai perhatian terhadap kondisi kehidupan mereka secara menyeluruh.
“Karena itu, isu seperti perubahan iklim, gagal panen, hingga akses layanan kesehatan juga berpengaruh terhadap kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam ekonomi kreatif. Jika kita berbicara tentang inklusivitas, maka yang perlu dibangun bukan hanya akses pasar, tetapi juga ekosistem yang mendukung kesejahteraan mereka secara menyeluruh,” katanya.
Menurut Gabriella, kebijakan dan kolaborasi lintas pihak perlu terus dikembangkan agar peluang ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup para penenun.
Baca Juga: Intip Pabrik EIGER di Bandung, Produksi Ribuan Tas per Hari dengan Garansi Seumur Hidup
Mengangkat Tenun dari Kaki Gunung Mutis
Proses pengembangan Tabua Tenu berawal dari Mollo, kawasan di kaki Gunung Mutis yang merupakan gunung tertinggi di NTT. Untuk menjangkau para penenun, tim EIGER menempuh perjalanan darat sekitar lima jam atau sejauh 126 kilometer dari Kupang.






