Bio-TCV Jadi Langkah Baru Bio Farma Wujudkan Kemandirian Industri Vaksin Nasional

Menurut Andi, kemungkinan memasukkan vaksin tifoid ke dalam Program Imunisasi Nasional masih memerlukan kajian menyeluruh yang mempertimbangkan data epidemiologi, beban penyakit, rekomendasi para ahli, kesiapan program, serta ketersediaan sumber daya.

Dukungan terhadap penggunaan Bio-TCV juga datang dari kalangan profesi medis. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I., FINASIM, menyatakan rekomendasi vaksin tifoid konjugat bagi orang dewasa didasarkan pada hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan profil keamanan dan kemampuan membentuk respons imun yang baik.

Menurutnya, vaksinasi direkomendasikan bagi masyarakat berusia 18 tahun ke atas, terutama kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar maupun menularkan infeksi tifoid.

“Vaksinasi diharapkan menjadi bagian dari upaya preventif yang terintegrasi bersama edukasi, sanitasi, higiene, dan penyediaan air bersih sehingga mampu menurunkan beban demam tifoid di Indonesia,” ujarnya.

Bio-TCV sendiri telah melalui proses pengembangan yang panjang. Pengembangan dimulai sejak transfer teknologi pada 2013, dilanjutkan dengan studi praklinis, uji klinis fase I, II, dan III, hingga akhirnya memperoleh izin edar dari BPOM pada 20 Agustus 2023.

Principal Investigator Bio-TCV dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, menjelaskan bahwa uji klinis fase III melibatkan 3.071 peserta dengan rentang usia mulai dari enam bulan hingga 60 tahun.