Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menilai kolaborasi menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan produk farmasi yang inovatif dan mampu bersaing di pasar global.
“Untuk menjadikan satu produk itu memerlukan riset dan pengembangan (R&D), inovasi, dan teknologi. Jadi, kita harapkan dari pertemuan ini ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk pengembangan Bio Farma,” kata Shadiq.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Medtrack, sistem digital untuk memantau distribusi vaksin secara real-time. Teknologi ini memungkinkan pemantauan suhu selama pengiriman sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi. Dengan begitu, kualitas dan keamanan vaksin dapat lebih terpantau hingga tiba di tujuan.
Bio Farma juga mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan penelitian dan produksi. Teknologi ini digunakan untuk mendukung pemantauan proses produksi vaksin polio serta membantu analisis dan seleksi kandidat vaksin berbasis DNA dan mRNA.
Pemanfaatan AI menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas riset dan pengembangan produk farmasi sekaligus memperkuat penguasaan teknologi di dalam negeri.
Sementara itu, di bidang pengembangan sumber daya manusia, Bio Farma menerapkan Virtual Reality (VR) untuk mendukung proses kualifikasi personel melalui simulasi digital. Teknologi ini memungkinkan pengembangan kompetensi dengan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan terstruktur, sesuai kebutuhan industri farmasi yang terus mengikuti perkembangan teknologi.






