Dalam forum tersebut, keberhasilan komunikasi organisasi tidak hanya dilihat dari jangkauan informasi atau eksposur media. Kemampuan membangun legitimasi, menciptakan pemahaman, dan menjaga hubungan jangka panjang dengan masyarakat juga menjadi aspek penting.
Menurut Indra, perubahan lanskap komunikasi menuntut praktisi humas untuk berpikir strategis, memahami risiko, menguasai teknologi, serta menerapkan prinsip komunikasi yang beretika.
“Di era ketika informasi dapat diproduksi dan disebarluaskan dalam hitungan detik, tantangan terbesar profesi humas bukan lagi sekadar bagaimana menyampaikan pesan, tetapi bagaimana memastikan informasi tersebut kredibel, dapat dipertanggungjawabkan, dan mampu membangun kepercayaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kompetensi komunikasi perlu berjalan beriringan dengan integritas, empati, dan tanggung jawab sosial agar informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Keberlanjutan Jadi Fondasi Kepercayaan Publik
Salah satu agenda yang dibahas dalam KHI 2026 adalah “Keberlanjutan sebagai Fondasi Kepercayaan”. Pembahasan ini menekankan pentingnya mengintegrasikan tindakan, data, narasi, dan dampak dalam membangun reputasi organisasi.
Bagi PERHUMAS BPC Bandung, isu tersebut relevan dengan praktik komunikasi korporasi, khususnya ketika organisasi dituntut menunjukkan komitmen terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
Indra menilai, komunikasi keberlanjutan perlu melampaui penyampaian cerita positif mengenai organisasi. Informasi yang disampaikan harus didukung bukti kinerja, transparansi, serta akuntabilitas.
