JURNALINDONESIAUPDATE – Kebun Binatang Bandung berpeluang memasuki babak baru. Di tengah proses pemilihan mitra Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) yang tengah dibuka Pemerintah Kota Bandung, Faunaland menyatakan kesiapannya untuk ikut dalam proses pengelolaan kawasan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari wajah Kota Bandung tersebut.
Bukan sekadar menawarkan pengelolaan kebun binatang konvensional, Faunaland membawa konsep konservasi urban yang menggabungkan ruang hijau kota, edukasi lingkungan, kenyamanan keluarga, hingga pengalaman rekreasi yang lebih modern dan relevan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan saat ini.
Sebagai pengelola Faunaland Ancol dan Faunaland Buperta Cibubur, Faunaland menilai pengalaman mereka dalam menghadirkan kawasan konservasi di tengah hiruk pikuk kota menjadi modal penting untuk mengembangkan Kebun Binatang Bandung yang memiliki lokasi strategis di pusat kota.
Selama ini, Kebun Binatang Bandung tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata satwa, tetapi juga ruang nostalgia lintas generasi bagi warga Bandung. Karena itu, Faunaland menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih hidup, sehat, dan dekat dengan masyarakat urban.
“Bandung memiliki karakter kota yang kreatif, hijau dan sangat dekat dengan aktivitas komunitas serta keluarga muda. Karena itu kami melihat Kebun Binatang Bandung memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang konservasi urban yang tidak hanya sehat bagi satwa, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan ruang hijau yang hidup bagi masyarakat,” ujar Danny Gunalen.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren wisata keluarga memang mengalami perubahan. Masyarakat kini cenderung mencari destinasi yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga pengalaman edukatif, ruang terbuka hijau, dan suasana yang nyaman untuk quality time bersama keluarga.
Fenomena tersebut dinilai membuat konsep konservasi urban semakin relevan. Kebun binatang modern kini dituntut tidak hanya menghadirkan koleksi satwa, tetapi juga memperhatikan kualitas habitat, kesejahteraan hewan, pengalaman pengunjung, hingga keterhubungan dengan lingkungan kota.
Menurut Danny, perhatian publik terhadap isu animal welfare juga semakin tinggi. Pengunjung kini lebih kritis terhadap bagaimana lembaga konservasi merawat satwa dan menjalankan fungsi edukasi secara bertanggung jawab.
Karena itu, Faunaland menilai pengelolaan Kebun Binatang Bandung ke depan perlu mengedepankan keseimbangan antara konservasi, edukasi, dan pengalaman publik. Penataan habitat yang lebih baik, fasilitas yang lebih nyaman, serta tata kelola profesional menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
“Kami percaya lembaga konservasi di tengah kota harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kesejahteraan satwa, edukasi publik, ruang hijau kota, dan pengalaman keluarga yang berkualitas. Pendekatan konservasi urban seperti inilah yang selama ini menjadi fokus pengembangan Faunaland,” lanjutnya.
Tak hanya itu, Faunaland juga melihat peluang besar untuk menghubungkan Kebun Binatang Bandung dengan ekosistem kreatif Kota Bandung. Kawasan tersebut dinilai bisa berkembang menjadi ruang interaksi komunitas melalui kegiatan edukasi lingkungan, workshop kreatif, hingga aktivasi publik yang melibatkan keluarga muda dan generasi anak-anak.
Pendekatan tersebut dianggap cocok dengan karakter Bandung yang dikenal sebagai kota kreatif dengan komunitas yang aktif dan budaya ruang publik yang kuat. Jika dikembangkan dengan konsep yang tepat, Kebun Binatang Bandung dinilai berpotensi menjadi destinasi urban lifestyle yang tetap mengedepankan nilai konservasi.
Selain fungsi rekreasi, keberadaan ruang hijau di tengah kota juga menjadi kebutuhan penting masyarakat modern. Di tengah padatnya kawasan perkotaan, ruang terbuka yang nyaman dan edukatif semakin dicari sebagai tempat rekreasi sehat bersama keluarga.
Faunaland sendiri selama ini aktif membangun kolaborasi dengan jaringan konservasi internasional dalam pengembangan enrichment habitat, edukasi satwa, dan peningkatan standar kesejahteraan hewan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mereka menghadirkan konsep konservasi yang lebih adaptif terhadap standar global.
Danny juga menyampaikan apresiasi terhadap proses pemilihan mitra KSP yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung secara terbuka. Menurutnya, proses tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan pengelolaan Kebun Binatang Bandung dilakukan oleh pihak yang memiliki visi jangka panjang terhadap konservasi dan ruang publik kota.

