Mereka adalah Dimas Budiman, Dhiya Prana Widya, Fatur Rahman, Josephine Huang, Meutia Afifah (MEU), Salwa Kamilah, dan Saskia Gita Kinanti.
Ketujuh seniman tersebut mengeksplorasi beragam medium, mulai dari lukisan, instalasi, objek, animasi, hingga karya interaktif.
Tema yang diangkat pun beragam, mencakup memori, identitas, keseharian, tubuh, teknologi, hingga proses bertumbuh sebagai manusia.
Perbedaan pendekatan tersebut membuat pameran tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga menawarkan berbagai perspektif mengenai hubungan manusia dengan waktu dan proses kreatif.
Setiap karya menjadi gambaran bahwa keterbatasan waktu tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan sesuatu. Sebaliknya, waktu yang terbatas justru dapat mendorong seseorang menemukan cara baru untuk tetap berkarya.
ARTOTEL Artspace Jadi Ruang Pertemuan Seni
Sebagai bagian dari ARTOTEL Group yang mengusung konsep art, lifestyle, dan experiential hospitality, de Braga by ARTOTEL secara konsisten membuka ruang bagi seniman, komunitas kreatif, dan pelaku industri budaya.
Melalui ARTOTEL Artspace, hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap. Ruang tersebut juga menjadi titik pertemuan antara seni, kreativitas, dan masyarakat.
General Manager de Braga by ARTOTEL, Tri Wenda Agus Setyabudi, mengatakan hotel dapat menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak masyarakat dengan dunia seni.
“Kami percaya bahwa hotel dapat menjadi ruang yang menghubungkan lebih banyak orang dengan seni. Melalui pameran kolektif ‘Studio di Jam 34’, kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati karya visual,” ujar Tri Wenda.
