Salah satu upaya besar yang kini menjadi prioritas ialah memperkuat petugas kebersihan pada level komunitas. Saat ini Kota Bandung memiliki 870 penyapu jalan dan 1.800 Gober, petugas kebersihan yang bekerja di wilayah RW. Namun jumlah itu dinilai belum cukup untuk mengimbangi volume sampah harian yang terus meningkat. Mulai 2026, pemerintah kota berencana merekrut petugas pemilah sampah di setiap RW, sebanyak 1.597 orang. Mereka akan bertugas secara langsung dari rumah ke rumah, memastikan warga melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik secara disiplin.
“Akan ada yang datang ke rumah sambil bilang: ‘Punten bu, mana sampah organiknya? Yang non-organik tinggalin nanti ada yang ambil.’ Itu akan jadi kebiasaan baru di Bandung,” tuturnya. Jika seluruh rencana berjalan mulus, Bandung akan memiliki lebih dari 4.500 personel kebersihan yang terlibat penuh dalam menjaga kebersihan kota setiap hari.
Farhan juga memaparkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi bisa bergantung semata pada armada angkutan dan metode pembuangan di TPA. Kota Bandung tengah mempersiapkan berbagai teknologi pengolahan, termasuk insinerator berkapasitas 10 ton, roller dryer organik, serta biodigester yang akan ditempatkan di sejumlah pasar besar seperti Pasar Gedebage dan Pasar Sarijadi. Ia mencontohkan perubahan signifikan di Pasar Gedebage. “Di Pasar Gedebage, setiap hari muncul 8 ton sampah, terutama dari pisang. Tapi sekarang jam 12 siang semua hilang—habis diolah,” jelasnya.
Namun dalam pandangannya, persoalan sampah bukan hanya perkara teknis. Farhan menyebut bahwa problem terbesar kerap muncul dari persepsi publik. “Sampah bukan hanya soal fisik, tapi juga soal persepsi. Bau sedikit, publik mengeluh. Maka komunikasi publik sama pentingnya dengan fasilitas pengolahan,” imbuhnya. Atas dasar itu, ia mengajak PRMN dan media lainnya menjadi mitra dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perubahan perilaku.






