JURNALINDONESIA – Musim liburan sekolah sering menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Ketika aktivitas belajar di sekolah berhenti sementara, tidak sedikit anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar gawai dibandingkan bergerak aktif di luar rumah.
Fenomena tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi kesehatan fisik maupun mental anak. Sejumlah studi menunjukkan bahwa selama masa liburan panjang, durasi penggunaan gawai pada anak cenderung meningkat, sementara aktivitas fisik dan kualitas tidur justru mengalami penurunan.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia sekolah untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari guna mendukung pertumbuhan dan kesehatan secara optimal.
Di tengah kondisi tersebut, banyak orang tua menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin anak lebih aktif bermain di luar ruangan dan mengurangi ketergantungan terhadap gadget. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai risiko kelelahan, dehidrasi, hingga gangguan kesehatan akibat cuaca yang tidak menentu.
Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak, Jesica Christianty, mengatakan kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar dirasakan para orang tua, khususnya ibu.
“Orang tua memahami pentingnya aktivitas luar ruangan bagi anak. Namun sering kali muncul rasa khawatir ketika anak terlalu lama bermain di bawah terik matahari atau cuaca yang berubah-ubah,” ujarnya dalam kegiatan Community Playdate bertajuk Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak di Jakarta.
Menurut Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, masa liburan sekolah seharusnya dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan menghadapi tantangan melalui pengalaman bermain yang lebih bebas.
Ia menjelaskan bahwa anak membutuhkan ruang untuk melakukan adventurous play atau permainan yang memberikan tantangan sesuai usia mereka, seperti berlari, memanjat, menjelajah lingkungan sekitar, maupun mencoba aktivitas fisik baru yang tetap berada dalam pengawasan orang dewasa.
“Permainan yang menantang membantu anak belajar menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, dan membangun rasa percaya diri. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk karakter yang tangguh dan mandiri,” kata Saskhya.
Menurutnya, terlalu banyak larangan yang diberikan dengan alasan melindungi anak justru dapat menghambat proses pembelajaran alami mereka. Anak yang jarang diberi kesempatan mencoba dan menghadapi tantangan berisiko tumbuh dengan rasa takut berlebihan terhadap lingkungan sekitarnya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang terbiasa melakukan aktivitas fisik yang menantang cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memperoleh pengalaman serupa.
Meski demikian, kebebasan anak dalam bereksplorasi tetap perlu diimbangi dengan pendampingan yang tepat dari orang tua. Saskhya memperkenalkan konsep supervision partnership, yakni pola pengawasan yang memberi ruang bagi anak untuk mandiri tanpa kehilangan rasa aman.
Melalui pendekatan ini, orang tua tidak harus selalu berada tepat di samping anak. Kehadiran yang mudah dijangkau dan tetap berada dalam pengawasan visual sudah cukup untuk memberikan rasa aman sekaligus melatih kemandirian anak.
“Ketenangan orang tua sangat penting. Jika terlalu sering melarang atau menunjukkan kecemasan berlebihan, anak justru bisa menyembunyikan rasa lelah atau ketidaknyamanannya karena takut diminta berhenti bermain,” jelasnya.
Selain memberikan kebebasan, orang tua juga perlu peka terhadap kondisi fisik anak selama beraktivitas. Pada usia sekolah, kemampuan anak mengenali sinyal tubuhnya sendiri belum berkembang sempurna. Akibatnya, mereka sering kali tidak menyadari ketika tubuh mulai lelah atau kekurangan cairan.
Tanda-tanda awal seperti rewel, mudah marah, lesu, atau kehilangan fokus dapat menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan waktu istirahat. Gejala tersebut bahkan sering muncul lebih dahulu dibandingkan tanda fisik lain seperti bibir kering, wajah memerah, atau frekuensi buang air kecil yang berkurang.
Karena itu, orang tua disarankan menyediakan waktu jeda selama anak bermain di luar ruangan. Momen istirahat dapat dimanfaatkan untuk mengajak anak berteduh, mengembalikan energi, dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh sebelum kembali beraktivitas.
Sebagai bagian dari kampanye Langkah Awal #BaikUntukAnak, Cap Kaki Tiga Anak mengajak para orang tua untuk tidak membatasi ruang eksplorasi anak karena rasa khawatir yang berlebihan. Sebaliknya, orang tua didorong untuk memberikan dukungan dan persiapan yang tepat agar anak dapat menikmati masa liburan dengan aman dan menyenangkan.
Jesica menegaskan bahwa pengalaman bermain di luar ruangan memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak di masa depan. Menurutnya, keberanian, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, hingga keterampilan sosial tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui pengalaman nyata saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Fondasi mental yang kuat dibangun melalui pengalaman. Anak membutuhkan kesempatan untuk bergerak, mencoba hal baru, dan belajar dari setiap pengalaman yang mereka hadapi,” ujarnya.
Melalui kampanye ini, orang tua diingatkan bahwa tugas utama mereka bukan menghilangkan seluruh risiko dari kehidupan anak, melainkan mendampingi dan membekali mereka agar berani tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Libur sekolah pun dapat menjadi momentum terbaik bagi keluarga untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan berkembang melalui aktivitas yang sehat, aktif, dan menyenangkan di luar ruangan. ***
